full screen background image
Sunday 19 November 2017
  • :
  • :

Kriminologi

Kriminologi

PENGERTIAN KRIMINOLOGI

– Paul Topinard : “Crimen” ( kejahatan/penjahat) + “Logos” ( ilmu pengetahuan). Maka, kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejahatan.

– Edwin H.Sutherland & Donald R.Cressey : “The body of knowledge regarding delinquency and crime as social phenomenon. It includes within its scope the process of making law, the breaking of law, and reacting to word the breaking of law…”

Sutherland & Cressey membagi kriminologi menjadi tiga cabang utama, yaitu:

1. Sosiologi hukum. Merupakan analisis ilmiah atas kondisi-kondisi berkembangnya hukum pidana.

2. Etiologi Kejahatan. Cabang kriminologi yang mencari sebab musabab dari kejahatan

3. Penologi. Merupakan ilmu tentang hukuman dengan ditambahkan oleh Sutherland hak-hak yang berhubungan dengan usaha pengendalian kejahatan baik represif maupun preventif.

 

– W.A Bonger : Ilmu pengetahuan yang mempelajari, menyelidiki sebab-sebab kejahatan dan gejala kejahatan dalam arti seluas-luasnya.

Bonger membagi kriminologi menjadi 5 cabang, yaitu:

1. Criminal Antropology. Ilmu pengetahuan tentang manusia yang jahat (SOMATIOS) dan ilmunini memberikan jawaban atas pertanyaan tentang ciri2 orang jahat. (Hubungan suku bangsa – kejahatan)

2. Crimina Sociology. Ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai suatu gejala di masyarakat, pokok utama ilmu ini adalah, sampai dimana letak sebab-sebab kejahatan dalam masyarakat.

3. Criminal Psychology. Ilmu pengetahuan tentang penjahat yang dilihat dari sudut jiwanya.

4. Psikopatologi dan Neuropatologi Kriminal. Ilmu tentang penjahat yang sakit jiwa.

5. Penologi. Ilmu tentang berkembangnya hukuman dalam hukum pidana.

Bonger juga membagi dengan istilah “kriminologi terapan” menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Higiene Kriminal. Usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Misal, pemberlakuan UU oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya kejahatan.

2. Politik Kriminal. Usaha penanggulangan kejahatan di mama suatu kejahatan telah terjadi.

3. Kriminalistik. Ilmu tentang pelaksanaan penyelidikaj teknik kejahatan dan pengusutan kejahatan.

– Wilhem Sauer : Merupakan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang dilakukan oleh individu dan bangsa-bangsa yang berbudaya.

– J.M. van Bemmelen : Suatu ilmu yang mencari sebab-sebab dari kelakuan yang asusila.

– Wolfgang & Johnston : kumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang gejala kejahatan dengan cara mempelajari dan menganalisis secara ilmiah keterangan-keterangan, keseragaman-keseragamanan, pola-pola, dan faktor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan, pelaku kejahatan serta reaksi masyarakat terhadap keduanya.

– Sehingga, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi fokus utama kajian Kriminologi adalah :

1.  Arti kejahatan; sifat dan luasnya kejahatan.

2. Mengapa orang berbuat jahat (etiologi Kriminal)/ sebab-sebab orang melakukan kejahatan.

3. Reformasi hukum pidana.

4. Bagaimana penjahat tersebut dicirikan oleh kriminologi.

5. Pembinaan penjahat (penjatuhan sanksi).

6. Bentuk kejahatan

7. Akibat dari perlakuan kejahatan.

8. Mencegah kejahatan agar jangan terulang

 

PENDEKATAN DALAM KRIMINOLOGI

– Pendekatan Deskriptif. Suatu pendekatan dengan cara melakukan observasi dan pengumpulan data yang berkaitan dengan fakta-fakta tentang kejahatan dan pelaku kejahatan. Misalnya, bentuk tingkah laku Kriminal, bagaimana kejahatan tersebut dilakukan oleh penjahat, frekuensi kejahatan pada waktu dan tempat yang berbeda, ciri khas dari pelaku kejahatan, dan perkembangan karir pelaku kejahatan.

– Pendekatan Kausalitas.  Mencari hubungan sebab-akibat dengan mencari jawaban atas pertanyaan mengapa seseorang melakukan kejahatan.

– Pendekatan Normatif. Mempelajari fakta-fakta, sebab-akibat, dan kemungkinan-kemungkinan dalam kasus yang sifatnya individual. Bertujuan untuk menemukan dan mengungkapkan hukum-hukum yang bersifat ilmiah, yang diakui keseragamannya.

 

ALIRAN DALAM KRIMINOLOGI

Aliran Klasik

– Ciri-ciri atau landasan kriminologi klasik dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Manusia dilahirkan dengan kehendak bebas (free will) untuk menentukan pilihannya sendiri.

2. Manusia memiliki hak asasi, diantaranya hak untuk hidup, kebebasan serta memiliki kekayaan.

3. Pemerintah negara dibentuk untuk melindungi hak-hak tersebut dan muncul sebagai hasil perjanjian sosial antara yang diperintah dan yang memerintah.

4. Setiap warga negara hanya menyerahkan sebagian dari hak asasinya kepada negara sepanjang diperlukan oleh negara untuk mengatur masyarakat dan demi kepentingan sebagian besar masyarakat.

5.Kejahatan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian sosial, oleh karena itu kejahatan merupakan kejahatan moral.

6.Hukuman hanya dibenarkan selama hukuman itu ditujukan untuk memelihara perjanjian sosial. Oleh karena itu, tujuan hukuman adalah untuk mencegah kejahatan di kemudian hari.

7. Setiap orang dianggap sama di muka hukum, oleh karena itu seharusnya diperlakukan sama.

Tokoh : Cessare Beccaria

 

Aliran Kartografik

Ajaran ini memiliki titik fokus pada distribusi kejahatan dalam daerah-daerah tertentu, baik secara geografis maupun secara sosialis. Aliran ini berpandangan bahwa kejahatan merupakan suatu ekspresi dari kondisi-kondisi sosial.

Tokoh : Adolphe Quetelet & Andre-Michel Guerry

 

Aliran Sosialis

Aliran ini dipengaruhi oleh determinisme ekonomi, bahwa tingkat kejahatan (kriminalitas) adalah konsekuensi dari masyarakat kapitalis akibat dari sistem ekonomi yang diwarnai penindasan terhadap buruh, sehingga menciptakan faktor-faktor yang dapat mendukung terhadap berbagai macam kejahatan.

Tokoh : Karl Mark

 

Aliran Positif

Aliran ini merupakan penolakan dari aliran sosialis dan berpendapat bahwa kejahatan bukan dihasilkan dari pengaruh ekonomi, namun kejahatan dihasilkan dari pengaruh perilaku manusia itu sendiri.

Aliran ini juga bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentutkan oleh faktor-faktor di luar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologis maupun yang kultural.

Aliran positif mempunyai landasan berpikir sebagai berikut:

1. Kehidupan manusia dikuasai oleh hukum sebab-akibat

2. Masalah-masalah sosial seperti kejahatan, dapat diatasi dengan melakukan studi secara sistematis mengenai tingkah laku manusia.

3. Tingkah laku kriminal adalah hasil dari kondisi abnormalitas yang mungkin saja abnormalitas ini terletak pada individu atau juga pada lingkungannya.

4. tanda-tanda abnormalitas tersebut dapat dibandingkan dengan tanda-tanda yang normal.

5. Abnormalitas ini dapat diperbaiki, maka penjahat pun dapat diperbaiki.

6. Treatment lebih menguntungkan bagi penyembuhan penjahat, sehingga tujuan dari sanksi bukanlah menghukum, melainkan memperlakukan atau membina pelaku kejahatan.

Dapat disimpulkan, bahwa aliran ini memandang penjahat adalah bawaan lahiriah dan dapat dinilai secara fisik (Lombrosian), kelemahan otak (aliran mental tester), dan psikologis (aliran psikiatrik)

Tokoh : Cesare Lombroso

 

Aliran Sosiologis

Aliran ini sebenarnya merupakan pengembangan dari ajaran Enrico Ferri, yang menyatakan bahwa setiap kejahatan adalah hasil dari unsur-unsur yang terdapat dalam individu, masyarakat, dan keadaan fisik.

Aliran ini berpendapat bahwa,” Crime as a function of social environment… That criminal behaviour results from the same processes as other social behaviour.

 

Klasifikasi Teori

1. Williams III & Marilyn Shane

a. Teori Abstrak / Teori-teori Makro

Mendeskripsikan korelasi antara kejahatan dengan struktur masyarakat (Teori Anomie & Konflik)

b. Teori-teori Mikro

Bersifat lebih konkret. Teori ini ingin menjawab mengapa seseorang/kelompok orang dalam masyarakat melakukan kejahatan atau menjadi kriminal. Teori-teori ini lebih bertendensi pada pendekatan psikologis atau biologis. (Social Control Theory & Social Learning Theory)

c. Beidging Theories

Mendeskripsikan tentang struktur sosial dan bagaimana seseorang menjadi jahat.(Subculture Theory & Differential Opportunity Theory)

2. Frank P. William III & Marilyn Shane 2

a. Teori Klasik dan Teori Positivis

Teori Klasik membahas legal statutes, struktur pemerintahan dan HAM.

Teori Positivis terfokus pada patologi kriminal, penanggulangan, dan perbaikan perilaku kriminal individu

b. Teori Struktural dan Teori Proses

Teori Struktural terfokus pada cara masyarakat diorganisasikan dan dampak dari tingkah laku.

Teori Proses membahas, menjelaskan, dan menganalisis bagaimana orang menjadi penjahat.

c. Teori Konsensus dan Teori Konflik

Teori Konsensus menggunakan asumsi dasar bahwa dalam masyarakat terjadi konsensus/persetujuan sehingga terdapat nilai-nilai bersifat umum yang kemudian disepakati secara bersama.

Teori Konflik, dalam masyarakat hanya terdapat sedikit kesepakatan dan orang-orang berpegang pada nilai pertentangan.

 

TEORI-TEORI KRIMINOLOGI

Teori Differential Association

Terdapat 9 poin yang merupakan landasan dari teori ini, yaitu:

1. Criminal behavior is learned (Perilaku kejahatan adalah hasil dari pembelajaran)

2. Criminal behavior is learned in interaction with other person of communication (Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dan komunikasis)

3. The principle of the learning criminal behavior occurs within intiminate personal groups. (Dasar pembelajaran perilaku jahat terjadi dalam kelompok pribadi yang intim)

4. When criminal behavior is learned, the learning includes:

(a) Techniques of committing the crime, which are very complicated, sometimes very simple

(b) The specific direction of motives, drives, rationalizations, and attitudes

5. The specific direction of motives and drives is learned from definitions of legal code as favorable or unfavorable. ( Arah khusus dari motif dan dorongan dipelajari dari definisi aturan hukum yang menguntungkan atau tidak menguntungkan )

6. a person becomes delinquent because of an access of defninitions favorable of violation of law over defintions unvaforable  to violation of law. (Seseorang menjadi delinkuen disebabkan pemahaman terhadap definisi-definisi yang menguntungkan dari pelanggaran terhadap hukum melebih definisi-definisi yang tidak menguntungkan untuk melanggar hukum)

7. Differential Association may vary in frequency, duration, priority, and intensity. ( Asosiasi yang berbeda mungkin memiliki keanekaragaman dalam frekuensi, lamanya, prioritas, dan intensitas.)

8. The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all the mechanism that are involved in any other learning. ( Proses pembelajaran perilaku jahat melalui persekutuan dengan pola-pola kejahatan dan anti-kejahatan meliputi seluruh mekanisme yang rumit dalam setiap pembelajaran lainnya)

9. While a criminal behavior is an explanation of general needs and values, it is not explained by those general needs and values since non criminal behavior is an explanation of same need and values. ( Walaupun perilaku jahat merupakan penjelasan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum, tetap hal itu tidak dijelaskan oleh kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut karena perilaku tidak jahat adalah sebuah penjelasan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang sama)

Tokoh : Edwin H.Sutherland

 

Teori Anomie

Aliran ini memiliki konsep bahwa dalam setiap masyarakat terdapat struktur sosial (berbentuk kelas-kelas). Perbedaan kelas ini dapat menyebabkan perbedaan kesempatan dalam mencapai tujuan. Misal, mereka berada di kelas yang rendah, sehingga mempunyai kesempatan yang lebih kecil dalam mencapai tujuan, bila dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kelas yang lebih tinggi. Keadaan tersebut akan menimbulkan frustrasi di kalangan warga yang tidak mempunyai kesempatan dalam mencapai tujuan.

Tokoh : Emile Durkheim

 

Teori Kontrol Sosial

Teori ini meletakkan penyebab kejahatan pada lemahnya ikatan individu atau ikatan sosial dengan masyarakat, atau macetnya integrasi sosial. Kelompok-kelompok yang lemah ikatan sosialnya (misalnya kelas bawah) cenderung melanggar hukum karena merasa sedikit terikat dengan peraturan konvensional. Perilaku kriminal merupakan kegagalan kelompok-kelompok sosial konvensional seperti keluarga, sekolah, atau kawan untuk mengikatkan atau terikat dengan individu.

Tokoh : Travis Hirchi

 

Teori Labeling

Secara gradual, asumsi dasar Teori Labeling meliputi aspek-aspek:

1. Tidak ada satu pun perbuatan yang pada dasarnya bersifat kriminal

2. Perumusan kejahatan dilakukan oleh kelompok yang bersifat dominan atau kelompok berkuasa.

3. Penerapan aturan tentang kejahatan dilakukan untuk kepentingan pihak yang berkuasa.

4. Orang tidak menjadi penjahat karena melanggar hukum, tapi karena ditetapkan demikian oleh penguasa.

5. pada dasarnya semua orang pernah melakukan kejahatan, sehingga tidak patut jika dibuat dua kategori, yaitu jahat dan orang tidak jahat.

Menurut aliran ini, kejahatan terbentuk karena aturan-aturan lingkungan, sifat individualistisk, serta reaksi masyarakat terhadap kejahatan.

Tokoh : Frank Tannenbaum

 

Teori Interaksionisme Simbolik

Teori ini memiliki 3 asumsi yang mendasari tindakan manusia:

1.  Manusia bertindak terhadap sesuatu atas makna yang dimiliki benda, kejadian, maupun fenomena tertentu bagi mereka. Individu merespons suatu situasi simbolik.

2. Makna tadi diberikan oleh manusia sebagai hasil interaksi dengan sesamanya. jadi, makna tadi tidak inherent, melainkan tergantung pada orang-orang yang terlibat dalam interaksi itu.

3. Makna tadi ditangani dan dimodifikasi melalui proses interpretasi dalam rangka menghadap fenomena tertentu lainnya. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial

Tokoh : Herbert Blumer

 

Teori Subculture

Pada dasarnya, teori ini membahas dan menjelaskan bentuk kenakalan remaja serta perkembangan berbagai tipe geng. Dalam teori ini, geng dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

1. Criminal Subculture, bilamana masyarakat secara penuh berintegrasi, geng akan berlaku sebagai kelompok para remaja yang belajar dari orang dewasa. Aspek itu berkolerasi dengan organisasi kriminal. Jenis ini menekankan aktivitas yang menghasilkan keuntungan materi, uang, atau harta beda dan berusaha menghindari penggunaan kekerasan.

2. Retreatist Subculture, dimana remaja tidak memiliki struktur kesempatan dan lebih banyak melakuykan perilaku menyimpang (mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkoba, dan lain sebagainya).

3. Conflict Subculture, terdapat dalam suatu masyarakat yang tidak terintegrasi, sehingga suatu organisasi menjadi lemah. Geng jenis ini cenderung memperlihatkan perilaku yang bebas. Ciri khasnya adalah adanya kekerasan, perampasan harta benda, dan perilaku menyimpang lainnya.

 

Tipe-Tipe Kejahatan

1. The Casual Offender

Peristiwanya terjadi tanpa diharapkan lebih dahulu, pelanggaran ringan sehingga sulit untuk menggolongkannya sebagai kejahatan.

Contoh : Pelanggaran lalu lintas.

2. The Occasional Criminal

Kejahatan yang bersifat ringan dan terjadi kadang kala, terjadi karena adanya kesempatan.

Contoh : Pencurian telepon genggam yang dibiarkan di atas meja.

3. The Episodic Criminal

Kejahatan yang tanpa direncanakan lebih dahulu.

Contoh : Karena emosi dalam pertengkaran, mengakibatkan penganiayaan dan menimbulkan kematian.

4. White Collar Crime

Dilakukan oleh orang dengan status sosio-ekonomi atas dan berhubungan dengan pekerjaannya.

Contoh : Kejahatan Korporasi (Pemalsuan pajak, pencemaran lingkungan,dll), Korupsi, dll.

5. The Habitual Criminal

Kejahatan yang diulang-ulang sehingga akhirnya menjadi kebiasaan dan mata pencaharian.

Contoh : Seseorang yang secara rutin mencuri motor tiap seminggu sekali.

6. The Professional Criminal

Berkaitan dengan habitual criminal, dengan semakin seringnya melakukan sebuah kejahatan tersebut, maka teknik yang digunakan pun semakin meningkat.

7. Organized Crime

Kejahatan yang teroganisasi dan terdapat pembagian tugas terhadap setiap anggotanya.

Contoh : Yakuza, Mafia, Triad, dll.

8. The Mentally Abnormal Criminal

Kejahatan yang dilakukan oleh orang yang bermental tidak normal.

Contoh : Psikopat

9. The Nor malicious Criminal

Kejahatan dimana pelakunya tidak menyadari telah melakukan tindak pidana.

Contoh : Kejahatan yang timbul karena keyakinan seseorang terhadap kepercayaan (sekte,aliran, dll.) tertentu

 

Sumber : Anwar, Yesmil & Adang.2010. Kriminologi. Refika Aditama : Bandung