full screen background image
Sunday 19 November 2017
  • :
  • :

Kejahatan Pasar Modal

Kejahatan Pasar Modal

Kejahatan Pasar Modal

 

Sejarah Pembentukan Pasar Modal

Pada tahun 1912, bursa dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda di Jakarta (Batavia). Surabaya pada tanggal 11 Januari 1925 dan Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925 dengan maksud sebagai sarana jual beli saham perusahaan milik negara.

Pasca orde lama, Pemerintah Indonesia mengupayakan penghimpunan dana untuk pembangunan dengan berbagai cara, terutama melalui pinjaman dari sindikasi negara-negara donor seperti Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) kemudian Consultative Group on Indonesia (CGI).

Namun, bagi pemerintah, pinjaman luar negeri bukan merupakan cara yang strategis untuk pembangunan, untuk itu dibentuk pasar modal yang dimaksudkan sebagai Wahana untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan.

Dalam perjalanannya, pasar modal mengalami pasang surut. Pemerintah Indonesia sempat membekukan kegiatan pasar modal karena kebijakan nasionalisasi pada tahun 1956. Pasar modal baru dibuka kembali pada tahun 1977 setelah pencanangan orde pembangunan.

Sampai tahun 1955, peraturan yang digunakan adalah Undang-Undang No.15 tahun 1952. Mengingat semakin berkembangnya kegiatan di pasar modal, mama lahirlah Undang-Undang No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal yang berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 1996.

 

Pengertian Pasar Modal

1. Ensiklopedia Ekonomi Keuangan dan Perdagangan

” Sebagai suatu tempat atau sistem bagaimana cara dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan dana untuk modal suatu perusahaan, merupakan pasar tempat orang membeli dan menjual surat efek yang baru dikeluarkan. ”

 

2. Kampus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

” Keseluruhan kegiatan yang mempertemukan penawaran dan permintaan atau merupakan aktivitas yang memperjualbelikan surat-surat berharga.”

3. U.Tanwai dan T.Patrick

Ada 3 pengertian pasar modal, yaitu:

A. Dalam arti lunas

” Pasar modal adalah kebutuhan sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk bank-bank komersial dan semua perantara di bilang keuangan serta surat-surat berharga atau klaim jangka panjang dan pendek.”

 

2. Dalam arti mencegah

” Pasar modal adalah semua pasar yang terorganisasi dan lembaga-lembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit ( biasanya berjangka waktu lebih dari satu tahun). Termasuk saham-saham, obligasi, pinjaman berjangka, hipotek, dan tabungan serta depository berjangka. ”

 

3. Dalam arti sempat

” Pasar modal adalam tempat pasar terorganisasi yang memperdagangkan saham-saham dan obligasi dengan memakai jasa dari makelar”

 

4. Undang-Undang No.8 tahun 1995 pasal 1 angka (13)

” Kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek perusahaan pabrik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.”

 

Instrumen Pasar Modal

Istilah yang bisa dipakai untuk menyebut instrumen pasar modal adalah efek.

Pengertian efek menurut Undang-Undang No.8 tahun 1995 adalah :

” Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan kontrak, investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.”

Instrumen yang diperdagangkan di BEI :

1. Saham

Saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut.

 

2. Obligasi

Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara memberi pinjaman (pemodal) dengan yang diberi pinjaman (emiten). Jadi, Surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman kepada perusahaan yang menerbitkan surat obligasi

 

3. Obligasi Konversi

Obligasi konversi sekilas memiliki kesamaan dengan obligasi biasa, namun obligasi konversi memiliki keuntungan, yaitu dapat ditukar dengan saham biasa pada harga konversi tertentu.

 

4. Right Issue

Right Issue merupakan hak bagi pemodal untuk memberi saham baru yang dikeluarkan emiten. Kebijakan right issue merupakan kebijakan emiten untuk menambah saham yang beredar dan pada prinsipnya menambah modal perusahaan.

 

5. Waran

Warna adalah hak untuk membeli saham biasa pada waktu dan harga yang sudah ditentukan, biasanya waran dijual bersamaan dengan surat berharga lainnya.

Jenis Tindak Pidana Pasar Modal

1. Penipuan

Penipuan menurut UUPM pasal 90 huruf c adalah:

” Membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta material atau agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek. ”

Setiap pelaku yang terbukti melakukan penipuan dalam kegiatan perdagangan efek dapat dikenakan pidana penjara paling lama 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp15.000.000.000 (lima belas miliar rupiah)

 

2. Manipulasi Pasar

Manipulasi pasar menurut pasal 91 UUPM adalah :

” Tindakan yang dilakukan oleh setiap pihak secara langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek.”

Beberapa pola manipulasi pasar adalah :

– Menyebarluaskan informasi palsu mengenai emiten tujuan untuk mempengaruhi harga efek perusahaan yang dimaksud di bursa efek (False Information)

– Menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau informasi yang tidak lengkap (Misinformation)

Dalam praktek perdagangan efek internasional, dikenal beberapa kegiatan yang dapat digolongkan sebagai manipulasi pasar, yaitu:

1. Marking The Close

Merekayasa harga permintaan atau penawaran efek pada saat atau mendekati saat penutupan perdagangan dengan tujuan membentuk harga efek atau harga pembukaan yang lebih tinggi pada hari perdagangan berikutnya.

2. Painting The Tape

Kegiatan perdagangan antara rekening efek satu dengan rekening efek lain yang masih berada dalam penguasaan satu puhak atau mempunyai keterkaitan sedemikan rupa sehingga tercipta perdagangan semu.

3. Pembentukan harga berkaitan dengan merger, konsolidasi, atau akuisisi dalam pasal 55 UU No.1 tahun 1995 tentang Perseoran Terbatas ditentukan bahwa pemegang saham yang tidak menyetujui rencana merger, konsolidasi, dan akuisisi berhak meminta kepada perseoran untuk membeli saham dengan harga yang wajar. Pemegang saham dapat memanfaatkan ketentuan ini untuk kepentingan pribadi melaluio manipulasi pasar.

4. Cornering The Market

Membeli efek dalam jumlah besar sehingga dapat menguasai pasar (menyudutkan pasar). Dalam praktek perdagangan efek di bursa efek dapaat dilakukan dengan cara Short Selling, yaitu menjual efek di mana pihak penjual belum memiliki efeknya. Hal ini dapat dilakukan karena bursa efek jakarta menetapkan jangka waktu penyelesaian transaksi T+3 (penjual wajib menyerahkan efeknya pada hari ketiga setelah transaksi). Jika penjual gagal menyerahkan efek pada T+3, maka yang bersangkutan harus membeli efek di pasar reguler. Maka, pelaku dapat mengambil keuntungan dengan cara membeli dalam jumlah besar efek tertentu dan menahannya sehingga akan banyak penjual yang mengalami gagal serah dan terpaksa membeli di pasar tunai yang sudah dikuasai oleh pelaku.

5. Pools

Penghimpunan dana dalam jumlah besar oleh sekelompok investor di mana dana tersebut dikelola oleh broker atau seseorang yang memahami kondisi pasar. Manager dari pools tersebut membeli saham suatu perusahaan dan menjuallnya kepada anggota kelompok investor tersebut untuk mendorong frekuensi jual-beli efek, sehingga dapat meningkatkan harga efek tersebut.

6. Wash Sales

Order beli dan order jual antara anggota asosiasi dilakukan pada saat yang sama di mana tidak terjadi perubahan kepemilikan manfaat atas efek. Manipulasi tersebut dilakukan dengan maksud bahwa mereka membuat gambaran dari aktivitas pasar di mana tidak penjualan atau pembelian yang sesungguhnya.

7. Insider Trading

Secara teknis, pelaku Insider Trading dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pihak yang mengembang kepercayaan secara langsung maupun tidak langsung dari emiten atau perusahaan publik atau disebut juga Fiduciary Position. Kedua, pihak yang menerima informasi dalam dari pihak pertama atau dikenal dengan Tipees.

 

Sumber : Anwar, Yesmil & Adang.2010.Kriminologi.Refika Aditama:Bandung