full screen background image
Sunday 19 November 2017
  • :
  • :

Hukum Waris Islam

Hukum Waris Islam

Hukum Waris Islam

Prinsip-prinsip Hukum Kewarisan Islam

1. Prinsip Ijbari

Peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya, berlaku dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Allah, tanpa bergantung kepada kehendak pewaris atau ahli waris.

Namun, tidak dalam arti yang memberatkan ahli waris. Maksudnya adalah andaikata pewaris mempunyai hutang lebih besar daripada warisan yang ditinggalkannya, ahli waris tidak dibebani membayar semua hutang pewaris, melainkan hutang hanya akan dibayar sebesar warisan.

Pewaris pun tidak dapat menolak proses peralihan hartanya kepada ahli waris, karena kemauannya tersebut dibatasi oleh ketentuan yang digariskan oleh Allah. Pembatasannya adalah bahwa seseorang hanya boleh mewasiatkan paling banyak 1/3 hartanya.

 

2. Prinsip Individual

Setiap ahli waris berhak atas bagian waris yang didapatkan tanpa terikat oleh ahli waris yang lain.

 

3. Prinsip Bilateral

Baik laki-laki maupun perempuan dapat mewaris dari kedua belah pihak garis kekerabatan, baik pihak kerabat laki-laku maupun pihak kerabat perempuan.

 

4. Prinsip Kewarisan Hanya Karena Kematian

Peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan sebutan kewarisan, berlaku setelah yang mempunyai harta tersebut meninggal dunia. Segala bentuk peralihan harta seseorang yang masih hidup, baik secara langsung maupun tidak, bukanlah merupakan persoalan kewarisan menurut hukum kewarisan Islam.

 

Sebab-sebab Mewaris

1. Adanya hubungan kekeluargaan

2. Adanya hubungan perkawinan

3.  Karena wala’ (antara tuan dengan budaknya yang telah dibebaskan. Pada masa ini praktis kehilangan maknanya, karena perbudakan secara umum sudah tidak ada)

 

Syarat-syarat Kewarisan

1. Meninggal dunianya si pewaris. (Meninggal dunia sebenarnya atau menurut putusan hakim atau menurut dugaan)

2. Hidupnya ahli waris

3. Mengetahui status kewarisan

 

Penghalang Mewaris

1. Pembunuhan

2. Berlainan agama

3. Perbudakan

4. Berlainan negara

 

Ahli Waris

1. Ahli Waris Dzul Faraid

Merupakan ahli waris yang mendapat bagian menurut ketentuan-ketentuan yang telah diterangkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Maksudnya adalah bahwa jumlah yang mereka terima, (1/2 atau 1/4 atau 1/8 dst.) telah disebutkan oleh Al-Qur’an. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

a. Duda

– Apabila pewaris tidak mempunyai anak, maka bagian warisan duda adalah 1/2

– Apabila pewaris mempunyai anak, maka bagian warisan duda adalah 1/4

– Pengertian dari anak pewaris tidak harus anak pewaris dengan duda tersebut, melainkan bisa saja dengan anak pewaris dari suami terdahulunya.

– Contoh :

A kawin dengan B. Perkawinan tersebut melahirkan C (Anak laki-laki). Setelah A meninggal dunia, ahli warisnya adalah:

Duda memperoleh 1/4 (karena pewaris memiliki anak, yaitu C. Anak laki-laki memperoleh 1 – 1/4 = 3/4 (pewaris dzul asabah)

 

b. Janda

– Apabila pewaris tidak mempunyai anak, maka bagian warisan janda adalah 1/4

– Apabila pewaris mempunyai anak, maka bagian warisan janda adalah 1/8

 

c. Ibu

– Apabila pewaris tidak mempunyai anak dan atau tidak meninggalkan dua atau lebih saudara, maka ibu memperoleh 1/3

– Apabila pewaris mempunyai anak dan atau meninggalkan dua atau lebih saudara, maka ibu memperoleh 1/6

 

d. Bapak

– Apabila pewaris tidak meninggalkan anak, maka bapak mewaris sebagai asabah

– Apabila pewaris meninggalkan anak laki-laki, maka bapak mewaris dzul faraid, dan bagian warisannya adalah 1/6

– Apabila pewaris meninggalkan anak perempuan, maka bapak mewaris sebagai dzul faraid dan asabah. Sebagai ahli waris dzul faraid bapak mendapat 1/6, ditambah (jika warisan masih tersisa) bagian warisan sebagai asabah.

 

e. Anak Perempuan

– Apabila hanya ada satu anak perempuan, maka ia memperoleh 1/2.

– Apabila ada dua atau lebih anak perempuan, maka mereka memperoleh 2/3

– Apabila anak perempuan mewaris bersama-sama anak laki-laki, maka anak perempuan mewaris sebagai asabah. Ketentuannya, bagian warisan anak perempuan setengah bagian warisan anak laki-laki.

Contoh:

A meninggal dunia. Ahli waris yang ditinggalkan adalah seorang duda, seorang bapak, dan seorang anak perempuan. Maka pembagian warisannya adalah :

Duda : 1/4 , Bapak : 1/6 , Anak Perempuan : 1/2

(Disamakan penyebutnya)

Duda : 3/12 , Bapak : 2/12 , Anak Perempuan : 6/12

Maka, dijumlahkan semua. 3/12 + 2/12 + 6/12 = 11/12

Sehingga, 1 – 11/12 = 12/12 – 11/12

= 1/12. Kelebihan ini diberikan kepada bapak sebagai ahli waris yang juga menjadi ahli waris asabah.

 

f. Cucu

– Cucu laki-laki dari anak laki-laki berkedudukan sebagai ahli waris asabah

– Cucu perempuan dari anak laki-laki berkedudukan sebagai ahli waris dzul faraid atau asabah.

– Cucu laki-laki dari anak perempuan dan cucu perempuan dari anak perempuan berkedudukan sebagai ahli waris dzul arham.

– Cucu perempuan dari anak laki-laki (mengingat posisinya sebagai ahli waris dzul faraid) pembagiannya adalah sebagai berikut:

o) Apabila hanya ada satu cucu perempuan, maka ia memperoleh 1/2 bagian

o) Apabila ada dua atau lebih cucu perempuan, maka mereka memperoleh 2/3 bagian

o) Apabila cucu perempuan mewaris, bersama-sama dengan satu anak perempuan, maka cucu perempuan memperoleh 1/6 bagian

o) Apabila cucu perempuan mewaris bersama-sama cucu laki-laki, maka cucu perempuan mewaris sebagai asabah

Contoh :

A meninggal dunia. Ahli waris yang ditinggalkan adalah bapak, duda, seorang cucu perempuan, dan seorang cucu laki-laki. Maka, pembagian warisannya adalah :

Bapak : 1/6, duda : 1/4, cucu perempuan dan cucu laki-laki sebagai ahli waris asabah. Maka, harus dihitung terlebih dulu sisa warisan setelah dikurangi oleh bagian dari para ahli waris dzul faraid (dalam hal ini bapak dan duda).

= 1 – (1/6 + 1/4)

= 1 – (2/12 + 3/12)

= 1 – 5/12

= 12/12 – 5/12

= 7/12

( Ingat! Perbandingan bagian perempuan dengan laki-laki adalah 1:2)

cucu perempuan : 1/3 x 7/12 = 7/36

cucu laki-laki : 2/3 x 7/12 = 14/36 = 7/18

 

g. Saudara Perempuan Kandung

– Apabila hanya ada satu saudara perempuan kandung, maka ia memperoleh 1/2 bagian

– Apabila ada dua atau lebih saudara perempuan kandung, maka mereka memperoleh 2/3 bagian

– Apabila saudara perempuan kandung mewaris bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung, maka saudara perempuan kandung mewaris sebagai asabah.

– Apabila saudara perempuan kandung mewaris bersama-sama dengan anak perempuan, maka saudara perempuan kandung mewaris sebagai asabah.

– Apabila ada anak laki-laki, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman.

– Apabila ada bapak, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman.

Contoh :

A meninggal dunia. Ahli waris yang ditinggalkan adalah seorang ibu, seorang janda, seorang anak perempuan, seorang saudara perempuan kandung. Maka, pembagian warisannya adalah :

Ibu : 1/6, Janda : 1/8, Anak Perempuan : 1/2, Saudara perempuan kandung : Asabah

(Maka, harus dihitung terlebih dahulu sisa warisan setelah dikurangi ahli waris dzul faraid)

= 1 – (1/6 + 1/8 + 1/2)

= 1 – (4/24 + 3/24 + 12/24)

= 1 – 19/24

= 5/24

Maka, bagian warisan untuk saudara perempuan kandung adalah 5/24

 

h. Saudara Perempuan Sebapak

– Apabila hanya ada satu saudara perempuan sebapak, maka ia memperoleh 1/2 bagian

– Apabila ada dua atau lebih saudara perempuan sebapak, maka mereka memperoleh 2/3 bagian

– Apabila saudara perempuan sebapak mewaris bersama-sama dengan saudara laki-laki sebapak, maka saudara perempuan sebapak mewaris sebagai asabah.

– Apabila saudara perempuan sebapak mewaris bersama-sama dengan satu saudara perempuan kandung, maka saudara perempuan sebapak memperoleh 1/6 bagian.

– Apabila saudara perempuan sebapak mewaris bersama-sama dengan anak perempuan, maka saudara perempuan sebapak mewaris sebagai asabah.

– Apabila ada anak laki-laki, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman.

– Apabila ada bapak, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman.

– Apabila ada dua atau lebih saudara perempuan kandung, maka saudara perempuan sebapak yang tidak didampingi oleh saudara laki-laki sebapak terhijab hirman.

– Apabila ada saudara kandung yang berkedudukan sebagai ahli waris asabah, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman

 

i. Saudara Perempuan Seibu

– Apabila hanya ada satu saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan, maka ia memperoleh 1/6 bagian.

– Apabila ada dua atau lebih saudara seibu, baik laki-laki semua, perempuan semua, atau laki-laki dan perempuan, maka mereka memperoleh 1/3

– Apabila ada anak, maka seluruh jenis saudara seibu terhijab hirman.

Apabila ada bapak, maka seluruh jenis saudara terhijab hirman.

– Apabila ada kakek sahih, maka seluruh jenis saudara seibu terhijab hirman.

 

j. Kakek

– Kakek dibedakan menjadi 2, yaitu kakek sahih dan kakek ghairu sahih, Kakek sahih disebut juga kakek sejati adalah kakek yang hubungan darahnya dengan pewaris tidak diselingi oleh orang perempuan. Kake ghairu sahih adalah kakei yang hubungan darahnya dengan pewaris diselingi oleh orang perempuan.

– Sebagai ahl waris, kakek sahih dapat berkedudukan sebagai ahli waris dzul faraid maupun asabah, sedangkan kakek ghairu sahih hanya dapat berkedudukan sebagai ahli waris dzul arham.

– Kakek dapat menempati kedudukan bapak atau saudara kandung atau saudara sebapak, apabila masing-masing tersebut tidak ada. Dalam hal tidak ada semua, maka pembagiannya adalah :

0) Mendapat 1/6 bagian apabila pewaris meninggalkan anak laki-laki

0) mendapat 1/6 bagian ditambah bagian sebagai ahli waris asabah apabila pewaris meninggalkan anak perempuan

0) Berkedudukan sebagai asabah apabila pewaris tidak meninggalkan anak

 

k. Nenek

– Baik seorang diri atau bersama-sama, nenek itu memperoleh 1/6 bagian.

 

2. Ahli Waris Asabah

Ahli waris asabah adalah ahli waris yang tidak memperoleh bagian tertentu, tetapi mereka berhak mendapatkan seluruh harta peninggalan jika tidak ada ahli waris dzul faraid dan berhak mendapatkan seluruh sisa harta peninggalan setelah dibagikan kepada ahli waris dzul faraid, atau tidak menerima apa-apa, karena harta peninggalan sudah habis dibagikan kepada ahli waris dzul faraid.

Kemenakan yang bisa menjadi ahli waris asabah adalah : (sisanya ahli waris dzul arham)

– Anak laki-laki saudara laki-laki kandung

o) Terhijab oleh anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, bapak, kakek sahih, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, saudara perempuan kandung yang mewaris sebagai asahab ma’al ghairi, dan saudara perempuan sebapak yang mewaris sebagai asabah ma’al ghairi.

– Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak

o) Terhijab oleh anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, bapak, kakek sahih, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, saudara perempuan kandung yang mewaris sebagai asahab ma’al ghairi, saudara perempuan sebapak yang mewaris sebagai asabah ma’al ghairi, dan anak laki-laki saudara laki-laki kandung.

Paman yang bisa menjadi ahli waris asabah adalah : (sisanya ahli waris dzul arham)

– Paman kandung dari bapak

0) Terhijab oleh anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, bapak, kakek sahih, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, saudara perempuan kandung yang mewaris sebagai asahab ma’al ghairi, saudara perempuan sebapak yang mewaris sebagai asabah ma’al ghairi, anak laki-laki saudara laki-laki kandung, dan anak laki-laki saudara laki-laki sebapak.

– Paman sebapak dari bapak

0) Terhijab oleh anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, bapak, kakek sahih, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, saudara perempuan kandung yang mewaris sebagai asahab ma’al ghairi, saudara perempuan sebapak yang mewaris sebagai asabah ma’al ghairi, anak laki-laki saudara laki-laki kandung, anak laki-laki saudara laki-laki sebapak, dan paman kandung dari bapak.

 

3. Ahli Waris Dzul Arham

Ahli waris dzul arham adalah ahli waris yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris melalui anggota keluarga perempuan. Professor Muhammad Yunus menyebutkan bahwa ahli waris dzul arham adalah anggota keluarga yang mempunyai hubungan dengan pewaris, tetapi hubungan itu telah jauh.

Syarat-syarat ahli waris dzul arham dapat mewaris, yaitu:

– Tidak ada ahli waris dzul faraid

– Tidak ada ahli waris asabah

– Jika mewaris bersama-sama dengan duda atau janda, maka duda atau janda itu mengambil bagiannya, kemudian sisanya diberikan kepada ahli waris dzul arham.

 

Sumber : Budiono, Abdul Rachmad.1999.Pembaruan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia.Citra Aditya Bakti : Bandung