full screen background image
Sunday 19 November 2017
  • :
  • :

Politik Uang : Kenapa Harus Ditolak?

politik-uang

Tadi siang sekitar jam 3 sore, penulis menonton sebuah acara berita siang di salah satu televisi swasta yang secara khusus membahas mengenai politik uang, berkaitan dengan akan diadakannya pemilihan kepala daerah di ibukota Indonesia ini.

Di dalam pembahasan tersebut, diuraikan bahwa politik uang ternyata masih eksis dan tetap menjadi salah satu senjata bagi para politikus untuk menarik suara sebanyak-banyaknya. Dibahas juga mengenai usaha-usaha dalam melawan politik uang baik oleh KPU maupun LSM, baik melalui kampanye, seminar, sosialisasi hingga pelosok desa, dan seterusnya. Hampir semua (kalau tidak bisa dikatakan semua) menyerukan agar politik uang diberantas dan mengharamkan menerima segala bentuk politik uang. Namun, apakah hal tersebut realistis? Apakah hal tersebut efektif?

Apabila dua pertanyaan tersebut ditanyakan kepada penulis, penulis dengan tegas akan menjawab TIDAK terhadap kedua hal tersebut.

Sebelum penulis membahas lebih lanjut, pengertian politik uang adalah segala usaha dan bentuk  baik berupa uang, barang, atau jasa oleh pemberi yang merupakan politikus, yang diberikan secara gratis untuk menimbulkan simpati atau rasa suka terhadap pemberi dan menimbulkan keinginan bagi penerima untuk memberikan hak suara politiknya terhadap pemberi.

Tidak perlu lagi penulis uraikan mengenai cerita kelam tentang kehidupan masyarakat ekonomi golongan bawah. Jangankan berpikir mengenai sekolah, kesehatan, atau uang pensiun yang bersifat jangka panjang, berpikir untuk makan hari ini saja sudah merupakan suatu hal yang berat. Kemudian, ada ‘tangan-tangan malaikat’ yang memberikan mereka sebuah bantuan, entah itu berupa uang, alat transportasi, elektronik, dll, bagaimana mungkin bisa kita meminta (kalo bukan memaksa) mereka untuk menolak pemberian tersebut, sekalipun pemberian tersebut menuntut balasan. Realistikah hal tersebut?

Bagaimana juga dengan pertanyaan kedua yang mempertanyakan efektifitas seruan-seruan untuk menolak politik uang? Pada dasarnya, politik uang tetap eksis dan bahkan tidak menutup kemungkinan politik uang sama sekali tidak berkurang atau bahkan mungkin berkembang. Efektifkah dengan cara yang sekarangg ini?

Bagaimana apabila seruan-seruan yang mengharamkan untuk menerima segala hal berbau politik uang menjadi seruan untuk menerima politik uang? Bagaimana apabila kita mengampanyekan pada khalayak ramai agar menerima politik uang tersebut, namun menekankan agar tidak memilih orang tersebut karena sudah dapat dipastikan orang yang melakukan politik uang bukan orang yang tepat untuk menjadi pemimpin? Menurut penulis, inilah cara terbaik dan paling realistis.

Dengan perubahan cara pandang tersebut, menurut penulis, masyarakat dapat menerima tiga keuntungan sekaligus. Pertama, masyarakat dapat menerima segala bentuk politik uang, tentunya secara jangka pendek dapat memberi kemudahan dan kebahagiaan bagi masyarakat yang menerima. Kedua, dengan cara ini, masyarakat dapat mengetahui pihak mana yang pantas untuk dijadikan pemimpin, sederhananya, orang yang melakukan politik uang buruk dan yang tidak adalah baik. Ketiga, apabila seruan-seruan ini dapat diimplementasikan oleh masyarakat, dimana masyarakat menerima politik uang, namun tidak memilih pemberinya, harapannya adalah pemberi akan galau, kalau bahasa anak mudanya sekarang, akan memberi atau tidak karena timbulnya keraguan efektifitas politik uang tersebut. Seperti kata pepatah, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.