full screen background image
Sunday 19 November 2017
  • :
  • :

Memberantas Mentalitas Pengemis di Indonesia

PENGEMIS-KAYA

Tulisan ini merupakan tulisan ulang dan pembaharuan dari tulisan penulisan ketika masih di zaman SMA. Penulis memutuskan untuk melakukan penulisan kembali perihal judul di atas karena melihat bahwa mentalitas pengemis ternyata masih sangat melekat di masyarakat Indonesia, bahkan setelah 5 tahun berlalu (penulis sekarang telah lulus kuliah).

Sebelumnya, perlu diketahui terlebih dahulu, apa yang dimaksud oleh penulis dengan mentalitas pengemis. Mentalitas pengemis adalah suatu mentalitas yang mengedepankan “lebih baik tangan di bawah daripada tangan di atas”. Mengedepankan kemalasan untuk melakukan suatu usaha, namun menginginkan hasil yang terbaik atau lebih sederhananya, hanya menginginkan enaknya saja tanpa harus bersusah payah. Selalu ingin berada di zona nyaman. Ketika semua hal tersebut dirampas, orang-orang yang memiliki mentalitas pengemis akan berteriak, mengkritik sana sini tanpa mau melakukan intropeksi diri untuk mencari tahu sebenarnya siapa yang melakukan kesalahan. Perlu ditekankan bahwa pengemis perlu dibedakan dengan orang miskin. Masih banyak orang miskin yang tidak menjadi pengemis dan memilih untuk bekerja keras.

Ya, mentalitas pengemis tersebutlah yang masih sangat melekat di masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dengan beberapa fenomena sosial yang beberapa waktu ini terlihat. Sebutlah keluhan-keluhan ketika subsidi dicabut, subsidi apapun bentuknya. Kemudian kepanikan yang terjadi ketika ada pemberitaan bahwa kuota bensin dikurangi jumlahnya, budaya mencontek yang masih tinggi di dunia pendidikan, permintaan akan kenaikan upah yang tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas kerja, kinerja pelayanan masyarakat di berbagai instansi pemerintahan yang masih saja ada pungli padahal kinerjanya lebih rendah kualitasnya dari bank atau hotel, pemalsuan surat untuk menghindari pajak, fakta bahwa ada ketidakadilan yang luar biasa mengenai penggunaan subsidi BBM oleh orang kaya, korupsi yang masih merajalela, dan kenyataan ironis lebih besarnya penghasilan pengemis daripada penjual koran atau pedagang asongan di perempatan lampu merah.

Contoh-contoh di atas merupakan suatu bukti bahwa mentalitas pengemis masih sangat melekat di masyarakat Indonesia. Uniknya, mentalitas pengemis juga terlihat di golongan elit atau konglomerat yang notabene memiliki kekayaan melimpah.

Mentalis pengemis harus diberantas, mengapa? Karena apabila melihat negara-negara yang bangkit dari keterpurukan dan sekarang menjadi negara maju, seperti hal nya Jerman maupun Jepang, mentalitas pengemis merupakan hal yang tidak ada atau hanya dimiliki segelintir orang saja. Jepang dan Jerman merupakan dua negara yang hancur dan terpuruk akibat dari perang dunia, namun lihat sekarang bagaimana kondisi kedua negara tersebut. Kerja keras dan nasionalisme merupakan kunci utama dari kebangkitan dua negara tersebut, bagaimana mereka berusaha keras untuk bangkit dari keterpurukan dan nasionalisme untuk membangun sebuah industri dan mencintai produk-produk yang dihasilkan dari industri dalam negeri mereka sendiri patut dicontoh Indonesia.

Pendidikan merupakan kunci utama dari pemberantasan mentalitas pengemis. Baik pendidikan untuk meningkatkan kualitas intelektual yang dilahirkan maupun meingkatkan kualitas karakter individu. Entah apakah revolusi mental yang diusung oleh pemerintahan yang akan datang juga mencakup pemberantasan mentalitas pengemis, namun menurut penulis, pemerintah yang akan datang wajib untuk memerhatikan pemberantasan mentalitas pengemis apabila memang serius untuk menjalankan ide revolusi mental tersebut.

Terlepas daripada apakah pemerintah yang akan datang mampu melakukan pemberantasan mentalitas pengemis, penulis lebih memilih untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan intropeksi diri apakah masing-masing dari kita masih memiliki mentalitas pengemis tersebut. Kalau memang masih ada, ayo mulai detik ini kita merubah diri kita masing-masing dan menghapus terlebih dahulu mentalitaspengemis yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Setelah itu, ayo kita juga memberantas mentalitas pengemis yang ada di sekitar kita. Mulai dengan tidak memberikan uang kepada pengemis dan mengalihkan donasi kita tepat guna, menegur orang-orang dengan kendaraan mewah yang menggunakan BBM subsidi, menegur teman kita yang sedang mencontek, dan lain-lainnya.

Saya percaya, apabila mentalitas pengemis sudah tidak ada lagi di masyarakat Indonesia, suatu hari nanti, Indonesia akan mampu menjadi salah satu negara maju di dunia ini. I love Indonesia so much!

Rule your mind, or it will rule you – Buddha

 

Sumber gambar : www.belumtau.com